Kamis, 23 Juni 2016

Majalah Djaka Lodang Lestarikan Budaya Jawa

Djaka Lodang ed. 24 Mei 2008
Majalah Djaka Lodang berdiri pada tanggal 1 Juni 1971. Djaka Lodhang adalah majalah mardika berbahasa Jawa yang didirikan oleh Kusfandi (alm) dan Drs. H. Abdullah Purwodarsono di Yogyakarta. Darsono di bantu oleh temannya, Kusfandi yang pada saat itu memiliki tempat percetakan untuk membantu memberinya modali sehingga di bentuk Yayasan Kartika Sakti.

Diadakannya rapat bersama untuk menentukan nama dari majalah itu, awalnya akan diberikan dengan nama Surkuning. Nama ini diambil karna pada masa itu Surkuning sedang menjadi buah bibir orang banyak karna berdasarkan kisah nyata berupa cerita miris yang dialami remaja perempuan yang di perkosa dan dibunuh oleh sejumlah pria, namun setelah konsultasi dengan Komandan Korem tentang menjadikan Surkuning sebagai sebuah nama dari majalah tersebut di tolak karna kasihan dengan cerita di balik nama tersebut. Akhirnya di putuskanlah dengan memakai nama Djaka Lodang yang di ambil dari karya Ronggo Warsito.

Abdullah Purwodarsono menuturkan alasan mengapa dia memilih menggunakan bahasa Jawa di majalah ini karena dia ingin melestarikan bahasa Jawa. Maka jika ingin menceritakan budaya Jawa tentu menggunakan bahasa Jawa dan juga bahasa Jawa sejatinya adalah bahasa ibu.

Majalah Djaka Lodang tidak pernah memiliki konten yang menggebrak masyarakat karna sesuai dengan moto yang tertera di sampul majalah tersebut yaitu " Ngesti Budhi Rahayu Mungatmakari Jakatanyar". Ngesti Budhi Rahayu yang berarti berusaha untuk keselamatan, Mungatmakari Jakatanyar berarti tidak ketinggalan kemajuan zaman. Jadi Djaka Lodhang tidak pernah membuat masyarakat heboh dengan konten yang di muat di majalah karna berangkat dari motto tersebut.

Majalah Djaka Lodang selain dijual di agen-agen, namun  juga dijual pada pelanggan tetapnya, serta bagi pembaca yang berada di luar Jogja dapat membelinya secara daring melalui website.
Iklan Majalah Pada Djaka Lodang Juga dengan Bahasa Jawa

Tentu saja Majalah Djaka Lodang pernah mengalami masa-masa sulit. Dalam wawancara bersama Abdullah, ia menuturkan bahwa hal itu terjadi pada saat ini karena kurangnya minat pembaca untuk membaca majalah dengan bahasa Jawa serta sudah semakin lunturnya kelestarian penggunaan bahasa Jawa di kalangan masyarakat Jawa (10/06).

Saat ini majalah Djaka Lodang di produksi 5000 cetak dengan harga Rp. 13.000.-. Jika teman-teman  ingin mengisi konten dan mengirimkan surat pembaca bisa langsung di antar atau dikirimkan ke alamat Djaka Lodang : Jl. Patehan Tengah No. 35 Yogayakarta (55133). Mari sama-sama kita melestarikan budaya daerah kita sendiri jangan sampai kita tidak mengenal dan  meninggalkan budaya yang sebenarnya sudah mendarah daging ini.

Sumber
 Wawancara Drs. H. Abdullah Purwodarsono, 10 Juni 2016.


Dimuat oleh: Lady Arsa Nabila, Yustinus Bigar, &

Jeremy Thomas
 

Soekarno jadi Cover Majalah TIME

Hai bloggers! Pada kesempatan kali ini, kami akan membahas mengenai keterkaitan cover yang diterbitkan oleh Majalah TIME. Majalah TIME merupakan majalah fenmenal yang lahir di Amerika Serikat pada 03 Maret 1923. Perlu diingat pula bahwa majalah ini dianggap berpengaruh dalam penyebaran informasi menarik dan juga tak luput dari isu-isu politik. 
Komponen utama yang pertama kali diperhatikan oleh pembaca ialah cover atau halaman depan dari majalah tersebut. Cover majalah juga sebagai salahsatu penentu banyaknya pembaca yang berminat untuk membaca majalah tersebut karena cover merupakan salahsatu bentuk packaging.
Seokarno sebagai Presiden Indonesia kala itu pernah menjadi cover Majalah Time. Cover tersebut digunakan dalam penerbitan majalahnya pada 23 Desember 1946 yang ditulis oleh Robert Sehrood. 
TIME ed. 23 Desember 1946
Pada cover itu digambarkan wajah Soekarno yang tegas dan semangat, diikuti dengan banyaknya tangan yang meraih bendera merah putih sebagai latar belakangnya dengan warna-warna pada cover yang cerah, tegas, dan berani. Hal tersebut secara tidak langsung mengartikan bahwa "inilah Ia sang Presiden Indonesia yang berani melawan penjajah dan berhasil memimpin Indonesia ke pintu kemerdekaan. Ia lah Soekarno.". Cover tersebut terkait dengan isinya yang membahas mengenai diri Soekarno yang pandai berpidato, berani, dan gaya kepemimpinannya yang 'berapi-api'.
Ketika ada hal positif, maka ada pula hal negatif atas sesuatu. Hal itu pula yang diasumsikan menjadi latar belakang Majalah TIME untuk menerbitakan cover majalah dengan sosok Soekarno (lagi) pada edisi 10 Maret 1958. Pada cover kali ini, warna-warna yang digunakan dibuat berbeda dari cover yang pertama. Pada cover yang kedua lebih terlihat gelap dan wajah Soekarno digambarkan tampak kejam, serta ditambah pula dengan tulisan "CIVIL WAR IN ASIA" pada bagian kanan atas.

Berkaitan dengan cover, isi majalahnya kali ini membahas mengenai sisi negatif yang dimiliki Soekarno dan propaganda yang telah dilakukannya terhadap rakyat Indonesia. Salahsatu asumsi yang mendasari terjadinya kasus ini karena Amerika menganggap gaya kepemimpinan Soekarno yang menakutkan, maka dari itu banyak negara yang kala itu baru merdeka namun tetap memberikan simpati bagi Indonesia yang juga baru merdeka. Maka dari
TIME ed. 10 Maret 1958
itu Amerika merasa terancam dan akhirnya menerbitkan Majalah TIME dengan cover seperti itu dan akhirnya banyak yang memiliki anggapan buruk mengenai Soekarno.

Dari kejadian tersebut, muncullah sebuah kritik bahwa seharusnya sebagai jurnalis yang berkewajiban memberikan informasi yang sebenarnya untuk tidak melakukan tindakan ini hanya karena berorientasi pada suatu keuntungan. Jika media massa digunakan untuk menyampaikan informasi palsu demi suatu kepentingan, maka secara tidak langsung media melakukan pembodohan pada konsumennya. 
Jadi bagi kamu yang berkeinginan menjadi jurnalis, ayo mulai selektif sejak sekarang dalam membaca atau pun menemukan informasi baru dalam bentuk apapun. Jangan terlalu mudah tertarik dan percaya atas informasi yang ada di media, karena informasi bisa dimanipulasi.

Jeremy Thomas

Sumber: Maharani, A. (02 Juli 2012). Figur di Indonesia yang pernah menjadi cover majalah bergengsi TIME. bintang. Dikutip dari bintang.com
Link

Minggu, 19 Juni 2016

Budaya Pop, Sosial, dan Politik dalam Warning Magazine



Hai Bloggers! Hmm kalian pernah dengar Warning Magazine? Itu loh majalah yang isinya budaya pop dan banyak meliput tentang band indie. Yuk baca lebih lanjut untuk tahu gimana Warning Magazine bisa menjadi majalah yang cukup diperhitungkan sekarang.
 Warning Magazine merupakan majalah musik yang  mengusung konten musik populer dengan sisipan elemen-elemen sosial politik sekedarnya dan bersifat independen. Warning Magazine digagas dan didirikan oleh mahasiswa, serta dikelola sepenuhnya oleh kaum muda. Sebagai  majalah berkonten utama musik semata wayang yang berasal dari kota Yogyakarta, majalah Warning Magazine telah menjadi media yang diterima dengan baik oleh publik, terutama oleh para penikmat musik tanah air dengan jangkauan nasional, baik dari aspek pemasaran, peredaran, hingga konten yang disajikan.
Tajuk Sosial Politik
Warning Magazine lahir pada 22 Desember 2012 yang dipelopori oleh seorang mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (FISIPOL, UGM) bernama Tomi Wibisono. Ide untuk membuat majalah ini ia dapat karena ada penyelenggaraan acara pameran zine bertajuk “Muak” pada pertegahan tahun 2012 yang berlokasi di Fisipol UGM. Dalam wawancaranya, Tomi menegaskan bahwa zine merupakan majalah nonkomersial yang hanya ditulis berdasarkan apa yang ingin dituliskan oleh penulisnya (Wibisono, 2016). Dalam wawacara pada 06 Juni 2016, Tomi Wibisono memaparkan bahwa berdirinya Warning Magazine bertujuan untuk membangun wadah alternatif yang mampu menampung inspirasi dan gairah berkarya anak muda dalam kajian jurnalistik dan budaya populer, khususnya di ranah musik populer.
Nama majalah ini diadaptasi dari lagu bertajuk “Warning” (dari album bertitel sama) milik Trio Punk Rock asal Amerika Serikat, Green Day, serta sajak populer seorang pujangga korban aksi represi pemerintahan Orde Baru, Wiji Thukul, yang bertajuk “Peringatan”. Nama Warning Magazine yang juga dapat diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia sebagai “Awas!”, yang diakui dimaknai sebagai sesuatu yang mengganggu, merisaukan, membuat cemas dan was-was, gaduh, membuat mangkal hati, hingga mampu menggoyahkan kemapanan dan stabilitas. Penafsiran tersebut juga berangkat dari perspektif Warning Magazine dalam tataran sosial-politik yang ingin disampaikan dalam potret pemahaman bahwa dunia ini sedang tidak baik-baik saja dan kenyamanan mampu mematikan kreativitas. Simbol tanda seru sebagai pengganti abjad ‘I’ yang kerap juga diturutkan pada praktik penulisan nama Warning Magazine di artikel-artikel tertentu (WARN!NG). Warna oranye menjadi warna sentral di luar warna dasar hitam dan putih. Warna oranye dipilih Tomi Wibisono lantaran dipandang sebagai warna paling agresif dan antusias. Warna oranye dinilai lebih bersifat mengundang huru-hara tanpa ingin jadi sesuatu yang dominan. Warna oranye juga menjadi simbol kebebasan, bagai warna senja. Masa senja yang jadi pertanda waktu kebebasan untuk mereka, yang tak lain adalah orang-orang yang mesti terkungkung dalam siklus kerja harian yang robotik di siang hari. 
Sampul Warning Magazine
Majalah cetak Warning Magazine memiliki kaarakteristik dengan ukuran 275 mm x 210 mm, posisi cetak vertikal dengan jumlah 80 halaman. Hanya sampul depan dan belakng Warning Magazine yang seluruhnya full color dan untuk isi hanya 10% yang full color. Ketika ditanyakan mengenai perihal ini, Wibisono menjelaskan bahwa keputusan tersebut diterapkan karena mengingat bahwa Warning Magazine yang dulunya lahir sebagai zine (Wibisono, 2016). Jenis kertas yang digunakan untuk halaman sampul depan dan belakang adalah Glossy Paper 120 gr dan untuk isi menggunakan kertas HVS 80 gr.

Pada awal penerbitannya pula Warning Magazine merilis situs resmi berbasis wordpress, yakni warningmagz.wordpress.com. Bersama logo dan atribut lain yang diperkenalkan saat itu, Warning Magazine sudah beroperasi sebagai media berbasis portal musik dan webzine yang menjalankan liputan, laporan, dan analisis tentang peristiwa-peristiwa dan dinamika industri musik populer. Kini seiring dengan perkembangannya Warning Magazine sudah memiliki domain dengan link www.warningmagz.com
Tampilan Halaman Utama Situs Resmi Warning Magazine
Dalam wawancaranya, Wibisono menuturkan bahwa Warning Magazine merekrut karyawannya dengan sistem magang terlebih dahulu selama dua bulan demi melihat kemampuan karyawannya. Program magang dari Warning Magazine tidak semata-mata untuk membuka lowongan pekerjaan bagi yang ingin bergabung menjadi bagian dari Warning Magazine, tetapi program ini juga dibuka bagi mahasiswa yang memubutuhkan program magang untuk kepentingan akademis.
Tiap edisinya, Majalah Warning Magazine memproduksi 1000 eksemplar untuk didistribusikan ke 39 titik penjualan yang ada di 13 kota di Indonesia (Yogyakarta, Jakarta, Bandung, Depok, Makassar, Malang, Bali, Solo, Pontianak, Cirebon, Surabaya, Palembang, dan Balikpapan) yang dapat diperoleh dengan harga Rp. 25.000,-  dan satu titik di Singapura. Bagaimana Warning Magazine bisa ada di Singapura? Hal ini dapat dijelaskan melalui salahsatu visi Warning Magazine yang berisi “Warning Magazine mampu memaksimalkan status persebaran nasional dan internasional (Asia Tenggara) dengan meraih pembaca sebanyak mungkin.” tutur Wibisono (06 Juni 2016).

Sumber Konten:
Wawancara. Wibisono, T. 06 Juni 2016.

Patricia Liana C.